Episode 6: Senja yang Tak Mau Selesai

 





Episode 6: Senja yang Tak Mau Selesai

Ada yang pandai menyembunyikan luka,

bukan karena mereka kuat,

tapi karena mereka tahu,

tak semua orang benar-benar ingin melihat yang nyata.

Resa bukan tipe sahabat yang akan memelukmu sambil bilang "everything’s gonna be okay."

Dia lebih seperti seseorang yang duduk diam di sebelahmu saat kamu hancur tanpa bertanya, tanpa menghakimi.

Hari itu kami duduk di balkon kampus, memandangi langit yang separuh biru, separuh abu.

Dia menggigit bibir bawahnya, menatap jauh ke arah yang bahkan tak bisa aku baca.

“Lo pernah ngerasa kayak… lo tuh terlalu banyak berharap dari orang?” tanyanya tiba-tiba.

Aku diam.

Dia tidak menatapku, dan aku tahu itu caranya bilang: Tolong dengerin, tapi jangan tanya balik.

“Aku nggak minta dilindungi. Aku cuma pengen ada orang yang bilang ‘nggak apa-apa kalau lo nggak kuat’... tapi bukan terus ninggalin aku setelah itu.”

Aku menoleh pelan. Dan untuk sesaat, aku ingin bilang sesuatu.

Tapi yang keluar dari mulutku cuma:

“Resa…”

Dia tertawa, pahit. “Lo juga nggak tahu harus jawab apa, ya?”

Aku mengangguk jujur. “Nggak tahu.”

 

Malam itu, aku berpikir lama tentang Resa. Tentang caranya memeluk dunia dengan senyuman tipis dan sarkasme halus, tapi selalu punya mata yang tampak lelah.

Aku tahu dia bukan mencari pacar.

Bukan cinta dalam bentuk romansa murahan.

Dia cuma ingin ada seseorang yang tidak pergi saat dia tidak kuat menjadi dirinya yang ceria.

Dan di titik itulah aku sadar… aku dan Resa tidak terlalu berbeda.

Kami hanya memakai cara yang berbeda untuk bertahan.

Aku memilih dingin. Dia memilih tawa palsu.

Malamnya aku kembali membuka halaman belakang bukuku, dan menulis pelan:

“Kita ini seperti rumah retak tapi ingin ada yang masuk dan tetap tinggal. Meski tahu, kita tak pernah benar-benar utuh.”

 

Aku menutup buku, lalu menatap langit malam dari jendela kamar.

Besok mungkin Lisa akan mengajakku ke kafe.

Resa mungkin pura-pura baik-baik saja.

Dan aku… akan tetap menjadi Chila yang cuek, manis, dan diam-diam menulis rasa yang tak sempat diucapkan.

 

Previous
Next Post »
Thanks for your comment