Episode 8: Ruang di Antara Kita
Kadang,
memberi ruang bukan berarti menjauh.
Tapi membiarkan sesuatu tumbuh dengan cara yang berbeda
tanpa harus memaksa.
Lisa berdiri di depan pintu kamarku dengan tangan penuh buku
dan secangkir kopi hangat. Matanya serius, tapi ada kelembutan yang sulit aku
abaikan.
“Kita butuh bicara, tapi aku nggak mau kamu merasa
terpojok,” katanya.
Aku mengangguk pelan, membiarkan dia masuk.
Dia duduk di sofa, dan kami saling pandang. Ada keheningan
yang tak perlu diisi kata-kata.
“Chil, gue tahu lo kuat. Tapi kuat juga berarti bisa minta
tolong atau cuma… bilang kalau lo nggak baik-baik aja.”
Aku menghela napas. “Aku nggak biasa. Aku takut… kalau aku
mulai buka, nanti aku nggak bisa berhenti.”
Lisa tersenyum tipis. “Gue nggak mau lo berhenti jadi lo,
cuma pengen lo lebih percaya.”
Sementara itu, di sudut lain kampus, aku melihat Resa dengan
wajah yang berbeda. Dia tertawa lepas, tapi ada kesan berbeda di matanya.
Aku tahu itu karena seseorang. Bukan aku. Tapi aku tak
merasa cemburu. Aku cuma… penasaran.
Malamnya, aku bertemu Nolan di taman kampus. Dia duduk
sendiri, membaca puisi yang aku tahu dia tulis sendiri.
“Kamu berubah, Chila,” katanya pelan.
Aku menatapnya, mencoba menyembunyikan getar kecil di dada.
“Mungkin aku cuma mulai belajar bagaimana memberi ruang
tanpa harus pergi,” jawabku.
Dia tersenyum, dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa
ruang itu tidak selalu sunyi. Bisa jadi hangat juga.
Di halaman belakang bukuku malam itu, aku menulis:
“Memberi ruang bukan berarti pergi.
Kadang itu adalah cara kita menjaga cinta tanpa harus
kehilangan diri.”

ConversionConversion EmoticonEmoticon