Episode 7: Jarak yang Tak Terucap

 



Episode 7: Jarak yang Tak Terucap

Orang-orang terdekatmu kadang bukan yang paling tahu soal hatimu.

Karena kamu terlalu takut kehilangan, sampai kamu memilih menyimpan semuanya sendiri.

“Lo akhir-akhir ini beda.”

Kalimat itu keluar dari Lisa saat kami duduk berdua di kafe biasa. Tangannya memainkan sisa busa di gelas kopinya, suaranya datar, tapi matanya menunggu.

“Apa maksudnya?” tanyaku.

Sengaja datar. Seperti biasanya.

“Dulu lo cerita, Chil. Sekarang… gue ngerasa kayak duduk sama orang asing yang pake wajah lo.”

Aku menunduk. Bukan karena bersalah. Tapi karena benar.

“Aku cuma lagi… penuh aja,” kataku akhirnya. “Nggak tahu harus mulai dari mana.”

Lisa mengangguk. Tidak marah. Tapi aku tahu, ada kecewa kecil yang tak sempat diucapkan.

“Gue nggak butuh lo cerita semuanya. Tapi jangan tutup semuanya juga.”

Itu kalimat paling tulus yang aku dengar minggu ini.

Dan itu juga yang paling menyakitkan.

 

Di hari yang sama, aku bertemu dia.

Romi.

Di lorong kampus, matanya bertemu denganku sekilas. Bukan sapaan, bukan basa-basi. Hanya satu pandangan pelan yang cukup berkata: “Aku lihat kamu.”

Dia tidak mendekat.

Dan aku lega. Karena sejujurnya, aku belum tahu harus bagaimana jika dia mulai masuk.

Romi adalah jeda yang tenang.

Dan aku belum siap meninggalkan sunyi yang selama ini kujaga.

Malamnya, aku membuka kembali halaman belakang bukuku.

Dan aku menulis sesuatu yang lebih jujur dari biasanya.

“Aku ingin ada yang mengerti, tapi tak ingin menjelaskan terlalu banyak.

Aku ingin dekat, tapi terlalu takut kehilangan bentuk asliku saat seseorang mulai menempel terlalu lama.”

Lalu aku menutup bukunya.

Memeluknya seperti rahasia yang tak ingin bocor.

Karena malam itu, aku tahu satu hal:

Aku sedang belajar membiarkan seseorang tinggal

tanpa harus merasa kehilangan diriku sendiri.

Previous
Next Post »
Thanks for your comment